Kabar

Tafsir Ar-Rum: Ketika Al-Qur’an “Memprediksi” Kemenangan Romawi

Banjarharjo — Suasana Masjid Al-Ibtisam tampak khidmat pada Ahad pagi ini (10/5/2026). Jamaah pengajian rutin Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banjarharjo memenuhi shaf demi shaf, menyimak tausiyah yang dibawakan oleh Ustaz Muda Solikhin, S.Ag dengan penuh perhatian. Tema yang dikaji kali ini cukup memantik antusiasme: Tafsir Surah Ar-Rum ayat 1–4.

Ustaz Muda membuka kajiannya dengan mengajak jamaah menengok lembaran sejarah. Ia berkisah tentang peperangan besar antara dua kekuatan adidaya zaman itu—Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel dan Persia yang beragama Majusi. Dalam perang tersebut, Romawi mengalami kekalahan telak di wilayah Syiria, tidak jauh dari tanah Arab.

“Ketika berita kekalahan Romawi ini sampai ke Mekah, orang-orang musyrik bergembira. Mereka merasa menang juga, karena Persia sama-sama menyekutukan Tuhan seperti mereka. Sebaliknya, kaum Muslimin bersedih. Mereka merasa senasib dengan Romawi yang merupakan Ahli Kitab,” papar Ustaz Muda di hadapan jamaah.

Namun di tengah duka itulah, Allah menurunkan ayat yang justru menjadi kabar gembira. Ar-Rum ayat 2–4 menegaskan bahwa meski Romawi kalah, dalam beberapa tahun ke depan mereka akan bangkit dan mengalahkan Persia. Sebuah pernyataan yang—jika dipandang dengan logika manusia saat itu—hampir mustahil, sebab Romawi sedang dalam kondisi kocar-kacir.

“Inilah salah satu mukjizat Al-Qur’an. Ia berbicara tentang hal gaib yang tidak bisa diketahui manusia biasa, dan sejarah kemudian membuktikan kebenarannya,” tegas Ustaz Muda.

Sejarah mencatat, sekitar tahun 622–624 M—tujuh hingga delapan tahun setelah kekalahan itu—perang kembali meletus, dan kali ini Romawi berhasil membalikkan keadaan. Bahkan kisah ini diwarnai taruhan antara Abu Bakar dengan Ubay bin Khalaf. Abu Bakar, dengan keyakinan penuh terhadap firman Allah, berani memasang taruhan senilai seratus ekor unta—jumlah yang sangat besar kala itu.

“Abu Bakar tidak ragu-ragu. Keyakinannya bukan berdasarkan analisis politik, tapi karena iman yang kokoh terhadap janji Allah dalam Al-Qur’an. Itulah modal utama seorang Muslim dalam menghadapi tantangan zaman,” ujar Ustaz Muda.

Ia pun menjawab pertanyaan yang mungkin muncul di benak jamaah: mengapa kaum Muslimin memihak Romawi, padahal Romawi pun bukan Muslim? Ustaz Muda menjelaskan bahwa Romawi sebagai Ahli Kitab masih mengenal Tuhan dan menerima wahyu, meski berbeda dengan Islam. Persia, sebaliknya, menyembah api dan tidak mengenal Tuhan dalam pengertian agama samawi.

“Tidak ada nabi yang netral. Semua nabi memiliki keberpihakan. Bahkan Nabi Muhammad pun ikut senang ketika Romawi akhirnya menang. Soal Romawi nanti bisa menjadi musuh, itu urusan berikutnya,” pungkasnya, disambut senyum hangat jamaah.

Kajian pagi itu kemudian ditutup dengan makan bersama yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Satu per satu jamaah duduk bersama, berbagi hidangan, canda, dan obrolan ringan—sebuah pemandangan yang mencerminkan semangat ukhuwah yang selama ini menjadi ruh gerakan Muhammadiyah di akar rumput.

Pengajian Ahad pagi PCM Banjarharjo yang rutin digelar di Masjid Al-Ibtisam ini memang bukan sekadar forum ilmu. Ia adalah ruang silaturahmi, tempat warga berkumpul, belajar, dan menguatkan satu sama lain—rahat, seperti yang dirasakan seluruh jamaah pagi itu. (AR)

Editor: Abdul Rasyid

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan