Kabar

Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah Banjarharjo Bahas Syahwat, Lanjut Sosialisasi Satumu dan Cek Kesehatan Gratis

BANJARHARJO — Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah Banjarharjo kembali digelar pada Ahad (9/8) dengan menghadirkan Ustaz Drs. H. Syaefudin, M.M., Wakil Ketua PDM Brebes, sebagai pemateri. Dalam kajiannya, beliau mengangkat tema tentang syahwat, hawa nafsu, serta pentingnya menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam mengarahkan keinginan manusia.

Di hadapan jamaah, Ustaz Syaefudin menjelaskan bahwa syahwat pada dasarnya berarti keinginan atau dorongan yang ada dalam diri manusia. Syahwat tidak semata-mata berkaitan dengan ketertarikan antara laki-laki dan perempuan, tetapi memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

“Syahwat itu keinginan. Setiap orang memiliki syahwat atau keinginan,” jelasnya.

Keinginan seseorang untuk memiliki rumah, kendaraan, menikah, memiliki anak, menjadi polisi, tentara, guru, dan berbagai cita-cita lainnya, menurutnya juga merupakan bagian dari dorongan atau keinginan yang ada dalam diri manusia.

Hal tersebut sejalan dengan firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 14, bahwa manusia memang dihiasi kecintaan terhadap berbagai hal yang diinginkannya, seperti perempuan, anak-anak, harta berupa emas dan perak, kendaraan, hewan ternak, serta pertanian. Allah kemudian mengingatkan bahwa semua itu merupakan kesenangan kehidupan dunia, sementara tempat kembali yang baik berada di sisi-Nya.

Syahwat Bukan untuk Dihilangkan, tetapi Dikendalikan

Dalam penjelasannya, Ustaz Syaefudin juga menekankan bahwa ketertarikan laki-laki kepada perempuan merupakan sesuatu yang normal dan merupakan bagian dari fitrah manusia. Yang menjadi persoalan bukan keberadaan syahwatnya, tetapi bagaimana manusia mengarahkan dan mengendalikannya agar tidak keluar dari tuntunan Allah.

Manusia tidak diperintahkan untuk menghilangkan seluruh keinginan dalam dirinya. Keinginan justru menjadi salah satu energi yang membuat manusia bergerak dan berusaha mencapai sesuatu.

Ia kemudian mengibaratkan syahwat seperti bahan bakar kendaraan.

“Mobil tidak ada bensinnya tidak bisa jalan. Begitu juga manusia. Syahwat itu seperti bahan bakar,” jelasnya.

Namun, bahan bakar saja tidak cukup. Kendaraan tetap membutuhkan pengemudi yang mengarahkannya. Demikian pula manusia membutuhkan pengendali dalam menjalani kehidupannya.

Dua “Sopir” dalam Diri Manusia

Ustaz Syaefudin menggambarkan bahwa manusia seolah memiliki dua pilihan “sopir” dalam menjalani kehidupannya.

Pertama, manusia dapat membiarkan hawa nafsu menjadi pengemudi. Hawa nafsu akan mendorong manusia mengikuti apa yang diinginkannya tanpa peduli apakah keinginan tersebut sesuai dengan aturan Allah atau tidak.

Kedua, manusia dapat menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam mengarahkan seluruh keinginannya.

“Manusia itu sopirnya ada dua. Pertama, sopir menggunakan hawa nafsu. Kedua, sopir menggunakan wahyu,” ungkapnya.

Karena itu, manusia perlu memiliki kemampuan untuk mengendalikan keinginannya. Keinginan untuk mendapatkan harta, jabatan, pasangan, kesuksesan, maupun berbagai kesenangan dunia tidak harus dimatikan. Namun semuanya harus diarahkan agar menjadi jalan kebaikan dan tidak membawa manusia kepada kemaksiatan.

Hati Membutuhkan Al-Qur’an sebagai Pembimbing

Lebih lanjut, Ustaz Syaefudin menyampaikan bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada kondisi hatinya. Karena itu, hati membutuhkan bimbingan agar tidak mudah mengikuti hawa nafsu.

Al-Qur’an menjadi salah satu sumber utama petunjuk yang membimbing hati manusia, sehingga seseorang tidak sekadar mengikuti apa yang diinginkannya, tetapi mampu menimbang setiap keinginan berdasarkan petunjuk Allah. Pesan tersebut dikuatkan dengan QS An-Nazi’at ayat 37–41:

فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ ۝٣٧
وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۝٣٨
فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ۝٣٩
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝٤٠
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ۝٤١

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (QS An-Nazi’at: 37–41)

Ayat tersebut memberikan gambaran mengenai dua pilihan manusia. Orang yang membiarkan dirinya dikuasai hawa nafsu hingga melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia mendapatkan ancaman. Sebaliknya, orang yang takut kepada Allah dan mampu menahan diri dari hawa nafsu mendapatkan balasan surga.

Dilanjutkan Sosialisasi Satumu dan Pendampingan e-KTAM

Setelah kajian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi Satumu sekaligus pendampingan langsung kepada jamaah dalam proses penggunaannya.

Dalam kegiatan tersebut, jamaah dipandu langkah demi langkah oleh Sekretaris PDM Brebes, Bapak H. Khaerudin, S.I.P., bersama staf Kantor PDM Brebes.

Pendampingan dilakukan agar jamaah Muhammadiyah dapat memahami proses penggunaan layanan Satumu dengan lebih mudah, termasuk dalam proses registrasi maupun migrasi data keanggotaan Muhammadiyah.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong tertib administrasi dan penguatan basis data keanggotaan Muhammadiyah melalui e-KTAM.

Ditutup dengan Cek Kesehatan Gratis

Rangkaian kegiatan Ahad Pagi kemudian dilanjutkan dengan cek kesehatan gratis yang diselenggarakan oleh Klinik Pratama Rawat Inap Ibnu Shina Banjarharjo.

Layanan ini memberikan kesempatan kepada jamaah dan warga Muhammadiyah untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara gratis sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan.

Kegiatan tersebut melengkapi rangkaian Ahad Pagi Muhammadiyah Banjarharjo yang tidak hanya menjadi sarana meningkatkan pemahaman keislaman, tetapi juga memperkuat persyarikatan dan menumbuhkan kepedulian terhadap kesehatan jamaah.

Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah Banjarharjo terus berupaya menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi jamaah dan masyarakat.

Menguatkan iman melalui pengajian, menguatkan persyarikatan melalui tertib administrasi, dan menjaga kesehatan melalui cek kesehatan gratis. (AR)

Editor: Abdul Rasyid

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan