Kabar

Kupas Sembilan Bagian Ayat Kursi, Ustaz Saiev: Penjagaan Manusia Terbatas, Penjagaan Allah Sempurna

BANJARHARJO — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banjarharjo menggelar Pengajian Ahad Pagi Pekan Kedua pada Ahad (12/7/2026). Kajian yang berlangsung khusyuk tersebut menghadirkan penceramah Ustaz Saiev Dzaky El Kemal, S.H., M.E., Wakil Mudir MBS KH Mas Mansyur Wanasari, Brebes, yang membedah keutamaan serta kedalaman tafsir Ayat Kursi.

Mengawali ceramahnya, Ustaz Saiev memaparkan kisah kemuliaan para sahabat Nabi, seperti Ubai bin Ka’ab yang dikenal sebagai ulamanya para sahabat, serta kejelian Abu Hurairah RA saat menjaga kekayaan Baitulmal hingga memergoki pencuri. Dari rekam sejarah dan hadis tersebut, beliau mengingatkan keutamaan merutinkan pembacaan Ayat Kursi seusai salat fardhu, di mana penjelasannya mengisyaratkan bahwa tidak ada pembatas antara seorang hamba dengan surga melainkan kematian.

Ustaz Saiev menerangkan, terdapat sembilan bagian penting dalam Ayat Kursi yang mengenalkan zat dan sifat-sifat Allah SWT secara utuh. Tauhid yang kokoh dimulai dari pengakuan mutlak bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah.

“Poin utamanya adalah menegaskan keesaan-Nya. Tidak ada Tuhan yang berhak kita sembah kecuali Allah,” ujar Ustaz Saiev di hadapan para jamaah.

Lebih jauh, beliau mengulas asma Allah Al-Hayyu (Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Maha Mandiri). Al-Hayyu menegaskan keberadaan Allah yang abadi. Ustaz Saiev mencontohkan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim AS yang sempat mengira bintang adalah Tuhan, namun kemudian berpaling karena bintang tersebut tenggelam dan hilang.

“Nabi Ibrahim tidak menyukai sesuatu yang fana. Sepanjang sejarah, banyak yang mengaku atau dituhankan manusia, tetapi mereka sirna. Hanya Allah yang Maha Hidup dan terus ada,” tuturnya.

Sementara sifat Al-Qayyum menunjukkan bahwa Allah tidak memerlukan bantuan siapa pun dalam mengurus dan memelihara seluruh makhluk-Nya. Ustaz Saiev juga menguraikan frasa laa ta’khuzuhu sinatuw wa laa naum (Allah tidak mengantuk dan tidak tidur). Menurutnya, penyebutan kantuk dan tidur secara berurutan adalah penegasan mutlak atas kesempurnaan penjagaan-Nya.

Secara analogis, beliau membandingkan keterbatasan penjagaan manusia dengan kesempurnaan perlindungan Ilahi. Manusia senantiasa memiliki keterbatasan ruang, jarak, dan tenaga.

“Penjagaan manusia itu terbatas. Seorang satpam hanya bisa mengawasi apa yang ada di hadapannya, sementara bagian belakang atau sudut tertentu bisa luput. Begitu juga ibu-ibu yang hadir di pengajian ini, tentu punya keterbatasan menjaga perhiasan yang ditinggal di rumah. Bahkan membawa beban ringan seperti ransel saja, lama-kelamaan pundak kita merasa berat dan lelah,” jelasnya.

Sebaliknya, Allah SWT memelihara langit, bumi, dan seluruh isinya seorang diri tanpa pernah merasa keberatan atau kerepotan sedikit pun. Penjagaan Allah mencakup segala penjuru dan tak pernah terputus.

Oleh karena itu, Ustaz Saiev mengajak jamaah untuk tidak sekadar membaca Ayat Kursi sebagai rutinitas formalitas, tetapi juga menghayati maknanya. Dengan pemahaman yang dalam, seorang mukmin akan memiliki keyakinan teguh bahwa dalam setiap aktivitas maupun lelapnya tidur, Allah SWT senantiasa menjaga dan melindungi hamba-Nya dari segala arah. (AR)

Editor: Abdul Rasyid

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan