Strategi Menghadapi Kemarau Panjang
Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ ,يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
وَالَّذِيْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍۚ فَاَنْشَرْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًاۚ كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ
Jamaah Sholat Jumat Yang Dirahmati Allah
BMKG pada bulan Maret kemarin merilis data prediksi musim kemarau tahun 2026. Intinya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, sebagian pada Mei, dan ada pula yang baru mulai Juni 2026. Pergerakannya dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, lalu merambat secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
Tidak hanya itu, awal musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal dari biasanya. Curah hujan selama periode kemarau pun diperkirakan berada pada kategori di bawah normal, artinya lebih kering dari kondisi umumnya. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, dan itu pun datang lebih awal. Bahkan, sekitar 57,2% wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Kalau kita mundur sedikit ke bulan Desember kemarin, curah hujan di berbagai wilayah Indonesia justru sangat tinggi. Di Sumatera, kondisi ini bahkan memicu bencana banjir. Hujan seringkali dituding sebagai penyebab utama. Padahal, dalam Al-Qur’an, Allah sudah menegaskan dalam surat Az-Zukhruf ayat 11:
وَالَّذِيْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍۚ فَاَنْشَرْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًاۚ كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ
“Dan Dialah yang menurunkan air dari langit menurut ukuran, lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).”
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa hujan tidak pernah turun secara kebetulan. Semuanya terukur, presisi, tidak kurang dan tidak lebih. Maka kalau Allah menurunkan air dalam jumlah tertentu, sejatinya itulah yang dibutuhkan oleh bumi dan manusia. Yang menjadi persoalan bukan pada hujannya, tetapi pada cara kita mengelolanya.
Ketika air melimpah, kita tidak siap menampung dan mengelolanya. Akibatnya banjir. Namun ketika kemarau datang, kita juga tidak siap, sehingga kekeringan terjadi di mana-mana. Di sinilah letak pentingnya ikhtiar manusia dalam mengelola nikmat Allah. Fenomena kemarau panjang atau paceklik ini bukan hal baru. Dalam sejarah, hal ini pernah terjadi di masa Nabi Yusuf ‘alaihissalam, bahkan berlangsung selama tujuh tahun. Bayangkan 7 tahun lamanya paceklik.
Kisah ini bermula dari mimpi Raja Mesir tentang tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, serta tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir gandum kering. Nabi Yusuf menafsirkan mimpi tersebut sebagai isyarat akan datangnya masa sulit. Beliau kemudian menyarankan agar masyarakat memanfaatkan tujuh tahun masa subur dengan bercocok tanam secara maksimal, lalu menyimpan hasil panen sebagai cadangan untuk menghadapi tujuh tahun paceklik. Ini adalah contoh nyata bagaimana mitigasi bencana direncanakan dengan matang.
Di masa Rasulullah SAW juga pernah terjadi kekeringan. Dalam sebuah riwayat, seorang sahabat mengadu bahwa ternak-ternak mati dan tanah retak karena kering. Lalu Rasulullah SAW mengangkat tangan dan berdoa: “Allahummasqinâ, Allahummasqinâ, Allahummasqinâ.” Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Maka turunlah hujan, padahal sebelumnya langit begitu cerah tanpa awan. Ini menunjukkan bahwa selain ikhtiar, doa juga menjadi kekuatan yang tidak boleh ditinggalkan.
Di masa Khalifah Umar bin Khattab, paceklik kembali terjadi. Namun karena wilayah kekuasaan sudah sangat luas, strategi yang digunakan berbeda. Umar membangun ketahanan pangan berbasis masyarakat, tidak terpusat seperti di masa Nabi Yusuf. Begitu pula di masa Khalifah Utsman, paceklik panjang juga pernah dihadapi dengan kebijakan yang melindungi rakyat. Dari sini kita belajar, bahwa upaya menghadapi krisis, termasuk kemarau panjang, adalah bagian dari tanggung jawab kepemimpinan dalam menjaga kesejahteraan umat.
Jamaah Sholat Jumat Yang Dirahmati Allah
Hari ini, berdasarkan data Bulog, stok beras nasional masih aman hingga akhir tahun. Ini tentu menjadi kabar yang menenangkan, yang artinya insya Allah kita bisa melewati masa-masa sulit ini. Namun di sisi lain, kondisi ekonomi global sedang tidak menentu. Konflik geopolitik, termasuk perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, berdampak pada berbagai sektor. Harga kebutuhan pokok mulai naik, BBM dan gas mengalami penyesuaian, dan pupuk pertanian ikut melonjak. Semua ini berpotensi memicu kenaikan harga pangan.
Di samping itu, musim kemarau panjang juga berisiko memperburuk kualitas udara, terutama di kota-kota besar. Minimnya hujan membuat polutan seperti debu dan partikel halus tidak tersapu, sehingga udara menjadi lebih kotor dan berbahaya bagi kesehatan. Maka dari kisah Nabi Yusuf, kita juga diajarkan untuk tidak menghabiskan semua yang kita miliki hari ini. Kita perlu menyisihkan sebagian untuk masa depan. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ
“Simpanlah sebagian hartamu, karena itu lebih baik bagimu.” (HR Bukhari)
Jamaah Sholat Jumat Yang Dirahmati Allah
Tahun ini bisa jadi tahun yang agak berat. Kita menghadapi kemarau panjang, di saat yang sama tekanan ekonomi juga meningkat. Maka yang harus kita bangun adalah kepedulian sosial. Jagalah keluarga kita, perhatikan saudara dan tetangga kita. Jangan sampai ada di sekitar kita yang kesulitan makan atau bahkan kelaparan. Percuma masjidnya megah, uang kasnya sampai puluhan juta, kalau ternyata masih ada umat Islam yang kelaparan. Semoga Allah menjaga kita semua, melapangkan rezeki kita, dan memberikan kekuatan untuk saling menolong dalam kebaikan.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
يأَيـُّهَا الذين آمنوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ؛
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
اللّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
اَلّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَوْلَادِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاحْفَظْهُمْ وَلَا تَضُرَّهُمْ وَارْزُقْنَا بِرَّهُمْ
اَللّٰهُمَّ اِنَّانَسْئَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِيْ الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ، اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tinggalkan Komentar