PCM Banjarharjo Gelar Pengajian Ahad Pagi, Ingatkan Bahaya Ujub dan Kesombongan
BANJARHARJO — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banjarharjo kembali menggelar Pengajian Ahad Pagi pada Ahad (13/9/2026) pekan kedua. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Ibtisam tersebut diikuti warga dan simpatisan Muhammadiyah dari sejumlah ranting di Kecamatan Banjarharjo.
Pengajian menghadirkan Ustaz Drs. H. Muda Solikhin, S.Ag., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Brebes, sebagai penceramah. Suasana pengajian berlangsung khidmat dengan dihadiri jamaah dari Ranting Muhammadiyah Banjarharjo, Cibendung, dan Malahayu.
Dalam kajiannya, Ustaz Muda mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah penciptaan Nabi Adam dan pembangkangan Iblis sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an.
Ia mengawali pembahasan dari firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)
Menurut Ustaz Muda, kisah tersebut menunjukkan bahwa Allah memberikan kedudukan kepada Adam dengan kehendak-Nya. Manusia yang sebelumnya belum dikenal oleh para malaikat justru kemudian mendapatkan amanah sebagai khalifah di bumi.
Perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam kemudian disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 34:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ
“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri. Ia termasuk golongan kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)
Ustaz Muda menjelaskan, persoalan utama Iblis bukan karena tidak mengetahui bahwa Adam diciptakan oleh Allah. Iblis justru jatuh karena ujub dan kesombongan, merasa dirinya lebih baik daripada Adam.
Hal itu tergambar dalam perkataan Iblis ketika menolak perintah Allah:
أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ
“Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)
“Jangan sampai kita sebagai umat Nabi Muhammad merasa lebih baik daripada saudara dan teman-teman kita,” pesan Ustaz Muda kepada jamaah.
Menurutnya, seseorang boleh saja bersyukur atas kelebihan yang diberikan Allah. Merasa bersyukur karena diberi kemampuan membaca Al-Qur’an, memiliki paras yang baik, mendapatkan kecerdasan, kesehatan, atau kelebihan lainnya merupakan hal yang berbeda dengan ujub.
“Alhamdulillah saya bisa membaca Al-Qur’an. Alhamdulillah ditakdirkan ganteng, cantik, dan sebagainya. Itu syukur. Tetapi ujub dan syukur ini beda tipis. Karena itu, kita harus hati-hati,” jelasnya.
Godaan Iblis Ada di Setiap Kesempatan
Ustaz Muda kemudian mengingatkan jamaah tentang peran Iblis yang senantiasa menggoda manusia. Ia mengutip Surah Al-Kahfi ayat 50:
أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِى وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلًا
“Apakah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin-pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? (Iblis) adalah seburuk-buruk pengganti bagi orang-orang zalim.” (QS. Al-Kahfi: 50)
Ia mengingatkan, manusia dapat terus digoda agar menjauh dari Allah, termasuk ketika hendak bertobat.
“Godaan Iblis benar-benar kuat. Baru takbir saja sudah digoda, padahal sedang salat. Apalagi ketika sedang tidak salat,” ujarnya.
Karena itu, ketika seseorang terlanjur melakukan kesalahan, jalan yang harus ditempuh bukan semakin menjauh dari Allah, melainkan segera kembali dan memperbanyak istigfar.
Kekhalifahan Bisa Benar, Orangnya Belum Tentu
Dalam bagian lain, Ustaz Muda mengajak jamaah membedakan antara sistem atau gagasan kepemimpinan dengan orang yang menjalankannya.
Ia mencontohkan bahwa dalam sejarah Islam, tidak semua pemimpin yang menyandang gelar khalifah selalu berlaku benar. Bahkan, sejumlah ulama besar pada masa pemerintahan khalifah pernah mengalami tekanan dan dipenjara.
Sebaliknya, menurut dia, sistem pemerintahan yang sering disebut tidak Islami tidak serta-merta membuat seluruh orang yang berada di dalamnya menjadi buruk.
Ia menyinggung sistem demokrasi sebagai contoh. Dalam praktiknya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah maupun Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tidak serta-merta ditangkap hanya karena menyampaikan pandangan keagamaan atau menjalankan organisasinya.
“Takdirnya memang demikian,” ujarnya.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan pentingnya tidak mudah memberikan penilaian keras kepada orang yang berbeda pandangan.
“Jangan mudah mengkritik orang yang berbeda dengan kita, apalagi dengan menghantam keras,” katanya.
Berbeda Tafsir Tidak Berarti Harus Saling Menyalahkan
Ustaz Muda juga mengingatkan jamaah agar memahami konteks ketika membaca sebuah ayat maupun kisah dalam Al-Qur’an.
Ia mengambil contoh persoalan makna sujud. Dalam konteks tertentu, sujud dapat memiliki makna penghormatan, bukan penyembahan. Al-Qur’an sendiri menggambarkan keluarga Nabi Yusuf yang bersujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Menurut Ustaz Muda, pemahaman terhadap teks agama perlu memperhatikan konteks sosial dan tradisi yang berlaku pada suatu masa.
Ia mencontohkan tradisi di lingkungan kerajaan atau keraton, ketika abdi dalem memiliki tata cara penghormatan tertentu kepada raja. Menurutnya, hal tersebut tidak bisa serta-merta disamakan dengan bentuk ibadah kepada Allah.
Karena itu, perbedaan penafsiran hendaknya tidak selalu berujung pada sikap saling menyalahkan.
Jangan Mudah Menyalahkan Sebelum Membaca
Di bagian akhir kajian, Ustaz Muda juga mengajak jamaah untuk tidak tergesa-gesa memberikan penilaian terhadap sebuah buku atau pemikiran yang sedang menjadi perbincangan publik.
Ia menyinggung buku yang belakangan viral, “Islam Ala Prabowo”, sebagai contoh. Menurutnya, masyarakat sebaiknya membaca dan memahami isi buku terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian.
“Jangan mudah menyalahkan. Coba dibaca dulu bukunya, jangan asal langsung bilang keliru atau salah,” pesannya.
Nasihat tersebut menjadi penutup penting dari kajian tentang Iblis dan kesombongan: bahwa salah satu bentuk kehati-hatian seorang Muslim adalah tidak merasa dirinya paling benar dan paling baik.
Pengajian Ahad Pagi kemudian ditutup dengan sarapan pagi bersama. Jamaah menikmati hidangan sambil bersilaturahmi dan berbincang dalam suasana kekeluargaan.
Bagi PCM Banjarharjo, kegiatan Pengajian Ahad Pagi tidak hanya menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman keislaman, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antara warga dan simpatisan Muhammadiyah dari berbagai ranting di wilayah Banjarharjo. (AR)
Editor: Abdul Rasyid
