Kilas Balik: Sepuluh Tahun Lalu, Muhammadiyah Banjarharjo Menata Langkah
Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Ada banyak hal yang berubah, ada pula perjuangan yang terus dilanjutkan. Jika menengok kembali perjalanan Muhammadiyah Banjarharjo, September 2016 menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan persyarikatan di wilayah Brebes bagian barat ini.
Pada Ahad, 4 September 2016, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banjarharjo menggelar Musyawarah Cabang (Musycab) di Masjid Al-Ibtisam Banjarharjo. Kegiatan ini menjadi momentum pergantian kepemimpinan sekaligus evaluasi perjalanan organisasi untuk periode berikutnya.
Sebagaimana diberitakan Suara Muhammadiyah pada 5 September 2016, Musycab tersebut merupakan Musycab keempat sejak Muhammadiyah Banjarharjo resmi berdiri pada 7 Juni 1997. Artinya, saat itu Muhammadiyah Banjarharjo telah melewati hampir dua dekade perjalanan dalam mengembangkan dakwah di tengah masyarakat.
Rangkaian Musycab diawali dengan pengajian umum yang disampaikan Ustaz Irfan Faridi dari Bumiayu. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa menjadi pimpinan Muhammadiyah berarti harus siap berjuang dan menjaga soliditas. Muhammadiyah bukan tempat untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan jalan pengabdian demi kepentingan akhirat.
Pesan itu rasanya masih relevan hingga hari ini. Sebab, mengurus organisasi dakwah memang tidak selalu mudah. Ada waktu, tenaga, pikiran, bahkan terkadang materi yang harus dikorbankan. Karena itu, dibutuhkan orang-orang yang tidak sekadar bersedia menjadi pengurus, tetapi juga memiliki kesungguhan untuk menghidupkan gerakan.
Melalui musyawarah mufakat, H. Supardi, S.Pd., kembali terpilih sebagai Ketua PCM Banjarharjo periode 2015–2020. Sementara itu, Isti Zukhriyah terpilih sebagai Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Banjarharjo untuk periode yang sama.
Dalam kepengurusan baru tersebut, salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah mengaktifkan kembali kegiatan ranting-ranting Muhammadiyah di Banjarharjo, Malahayu, dan Cibendung. Selain itu, kegiatan yang telah berjalan, seperti pengajian rutin PCM, LAZISMU, dan kurban, juga hendak dipertahankan dan dikembangkan. Partisipasi dalam kegiatan Muhammadiyah tingkat daerah pun tetap menjadi bagian dari komitmen organisasi.
Jika dipikir-pikir, menghidupkan ranting memang bukan pekerjaan sederhana. Ranting merupakan ujung tombak gerakan Muhammadiyah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Pengajian, kegiatan sosial, dan berbagai bentuk dakwah akan lebih terasa manfaatnya ketika organisasi di tingkat paling dekat dengan warga dapat berjalan dengan baik.
Kini, sepuluh tahun telah berlalu sejak catatan itu diterbitkan. Kepengurusan boleh berganti, tantangan boleh berubah, tetapi semangat untuk menjaga dakwah Muhammadiyah semestinya tetap menyala.
Kilas balik ini bukan sekadar mengenang siapa yang pernah memimpin atau kegiatan apa yang pernah dilaksanakan. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa Muhammadiyah Banjarharjo hari ini berdiri di atas ikhtiar orang-orang yang telah berjuang sebelumnya.
Tugas generasi sekarang adalah melanjutkan ikhtiar tersebut, merawat yang sudah baik, memperbaiki yang masih kurang, dan memastikan dakwah Muhammadiyah terus memberi manfaat bagi masyarakat.
