Opini

Iduladha 2026: Ketika Data Berbicara Lebih Awal dari Keputusan

Oleh: Abdul Rasyid, S.E. 

Pada tanggal 2 Mei 2025, atau sekitar setahun yang lalu, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) merilis Buku Peta Ketinggian Hilal Tahun 2026. Buku ini memuat peta ketinggian hilal dan peta elongasi pada saat Matahari terbenam untuk penentuan awal bulan Syakban 1447 H hingga Rajab 1448 H (2026 M), baik di wilayah Indonesia maupun dunia. Di dalamnya juga tersedia tabel-tabel data hilal dan Matahari pada saat Matahari terbenam untuk awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H bagi kota-kota tertentu di Indonesia.

Pemerintah Indonesia menggunakan parameter MABIMS, yakni tinggi hilal ≥ 3° dan elongasi ≥ 6,4°. Pada tabel tersebut, yang ditampilkan memang hanya tinggi hilal, sehingga fokus pembacaannya ada pada indikasi itu.

Untuk Zulhijah 1447 H, yang menjadi penentu Iduladha 2026, tercatat data berikut: Ijtimak: 16 Mei 2026 (UT) / 17 Mei 2026 (WIB) Tinggi hilal saat magrib di Indonesia: 3,29° s.d. 6,95°

Artinya, sebagian wilayah Indonesia sudah berada di atas 3°, bahkan ketinggian maksimal mencapai 6,95°. Secara kriteria MABIMS, kondisi ini sudah memenuhi syarat imkan rukyat. Karena itu, apabila mengikuti pola pemerintah, 1 Zulhijah 1447 H kemungkinan besar jatuh pada 18 Mei 2026, sehingga 10 Zulhijah atau Iduladha diperkirakan jatuh pada 27 Mei 2026.

Apabila melihat data tersebut, sebenarnya sudah sangat terang kapan kita akan melaksanakan Iduladha 1447 H tahun ini. Bahkan sekitar setahun sebelumnya, data itu sudah bisa dibaca dengan cukup jelas. BMKG dan BRIN pun sejatinya sudah dapat memperkirakan jauh-jauh hari melalui perhitungan posisi hilal yang sangat presisi.

Begitu pula pemerintah melalui Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama (NU). Dengan metode hisab yang dimiliki, mereka sangat mumpuni untuk memprediksi apakah hasilnya akan sama atau berbeda. Hanya saja, verifikasi melalui rukyat tetap menjadi penentu akhir sebuah keputusan.

Apalagi jika pembandingnya adalah Muhammadiyah yang memang telah memiliki sistem kalender sendiri. Bagi Muhammadiyah, kepastian itu sudah terang sejak awal.

Lalu mengapa kepastian itu tidak segera menjadi pegangan bersama? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk menyadarkan kita bahwa persoalannya bukan lagi pada kemampuan menghitung, melainkan pada kemauan untuk bersepakat.

Soal seperti ini sebenarnya sudah biasa bagi kita. Ya bagaimana lagi, memang metodenya demikian. Kita juga tidak bisa begitu saja mengklaim metode mana yang paling benar dan paling valid. Namun, umat sejatinya membutuhkan kepastian jauh-jauh hari. Islam adalah agama yang berkemajuan dan akan selalu sesuai dengan perkembangan zaman.

Kita ini selalu dihadapkan pada kebingungan: kapan mulai puasa, kapan lebaran. Berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin ratusan tahun, persoalan ini terus berulang tanpa benar-benar menemukan titik temu di seluruh penjuru dunia Islam. Muhammadiyah kemudian mencoba memecah kebuntuan itu melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai sebuah utang peradaban. Jika sekitar satu abad yang lalu Muhammadiyah meluruskan arah kiblat, kini Muhammadiyah menawarkan KHGT sebagai jawaban atas kebutuhan umat di tengah kemajuan teknologi.

Tentu saja tidak semua orang setuju. Suara-suara sumbang akan terus berkumandang. Namun biarlah. Hal seperti itu sudah biasa. Bukankah sedikit bicara dan banyak bekerja memang sudah menjadi jalan yang selama ini ditempuh.

Berlebaran bersama bukan sekadar soal tanggal yang sama di kalender. Ia adalah wajah dari kesatuan umat, energi yang terpusat, dan syiar yang utuh. Ketika sebagian merayakan sementara yang lain masih berpuasa, bukan hanya suasana yang terbelah, tetapi juga pesan yang kita kirimkan kepada dunia tentang siapa kita sebagai umat.

Pada akhirnya, kita hanya bisa mengatakan bahwa kebenaran tetap berada di sisi Allah. Dengan hasil hisab yang sangat presisi, kita akan berlebaran bersama untuk Iduladha tahun ini. Melihat kondisi cuaca belakangan ini, hilal juga lebih mudah terlihat. Jika Iduladha berlangsung bersamaan, setidaknya energi umat tidak lagi terpecah seperti yang terjadi pada Idulfitri kemarin.

Abdul Rasyid, S.E.

Sekretaris PCM Banjarharjo | Personal Finance & Investment Strategist

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan