Kabar

Pengajian Ahad Pagi PCM Banjarharjo: Kehidupan Dunia Hanyalah Persinggahan Sementara

BANJARHARJO – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banjarharjo kembali menggelar Pengajian Ahad Pagi pekan kedua pada Ahad (14/6/2026) di Masjid Al-Ibtisam Banjarharjo. Kegiatan tersebut menghadirkan Ustadz Saiev Dzaky El Kemal, S.H., M.E., Wakil Mudir MBS KH Mas Mansyur Wanasari Brebes, yang menyampaikan kajian tentang hakikat kehidupan dunia berdasarkan Surah Al-Kahfi ayat 45.

Dalam pemaparannya, Ustadz Saiev menegaskan bahwa kehidupan dunia merupakan fase yang sangat singkat dibandingkan kehidupan akhirat. Karena itu, manusia perlu memandang kehidupan dengan kebijaksanaan dan kesadaran bahwa segala sesuatu yang dimiliki di dunia pada akhirnya akan berakhir.

“Semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, seharusnya semakin bijak pula cara pandangnya. Ilmu membuat seseorang memiliki lebih banyak sudut pandang dalam memahami kehidupan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Mengutip firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 45, ia menjelaskan bahwa kehidupan dunia diibaratkan seperti air hujan yang turun dari langit, menyuburkan tanaman, kemudian tanaman itu mengering dan diterbangkan angin.

“Allah menggambarkan kehidupan dunia sebagai sesuatu yang tumbuh, berkembang, lalu berakhir. Siklusnya sangat singkat. Apa yang hari ini tampak kuat dan indah, suatu saat akan hilang,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Saiev juga mengajak jamaah untuk memandang kematian sebagai bagian dari perjalanan hidup yang pasti ditempuh setiap manusia. Menurutnya, kematian bukanlah akhir, melainkan perpindahan menuju kehidupan berikutnya.

Ia mengilustrasikan kondisi tersebut dengan sebuah keluarga yang bepergian menggunakan dua mobil menuju tujuan yang sama. Satu mobil telah sampai lebih dahulu, sedangkan mobil lainnya mengalami kendala di perjalanan.

“Ketika ditanya sudah sampai mana, jawabannya mungkin masih di jalan karena ada hambatan. Namun selama tetap berada di jalur yang benar, ia pasti akan sampai. Begitulah hubungan antara kehidupan dan kematian. Mereka yang telah meninggal hanyalah lebih dahulu sampai di tujuan,” tuturnya.

Meski demikian, lanjutnya, terdapat perbedaan mendasar antara mereka yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia.

“Komunikasi yang dahulu berlangsung dua arah kini menjadi satu arah. Kita tidak lagi dapat berkomunikasi sebagaimana ketika mereka masih hidup,” katanya.

Menjelaskan lebih lanjut tentang perumpamaan dalam Al-Qur’an, Ustadz Saiev menerangkan bahwa air hujan diturunkan dari langit karena langit merupakan wilayah yang tidak dapat diintervensi manusia, sehingga kesuciannya tetap terjaga. Ketika air tersebut bertemu dengan tanah yang mengandung unsur hara, muncullah kehidupan berupa tumbuh-tumbuhan.

Menurutnya, peristiwa itu juga menggambarkan hakikat penciptaan manusia yang terdiri dari unsur ruh dan jasad.

“Kita adalah perpaduan antara unsur langit dan unsur bumi. Ruh berasal dari Allah, sedangkan jasad berasal dari tanah. Ketika manusia meninggal, ruh kembali kepada Allah dan jasad kembali ke tanah,” terangnya.

Ia kemudian mengajak jamaah merenungkan mengapa tanah yang sama dapat menghasilkan tanaman yang berbeda-beda meskipun menerima air hujan yang sama. Dalam pandangannya, tanah tersebut dapat dianalogikan sebagai hati manusia.

“Air hujan yang turun kepada orang beriman dan orang kafir sama. Sumber kehidupannya sama. Namun hasilnya berbeda karena kondisi hatinya berbeda,” ungkapnya.

Karena itu, kualitas seseorang tidak ditentukan oleh apa yang diterimanya semata, melainkan oleh bagaimana ia mengelola hati dan kehidupannya.

“Muncul berbagai macam tanaman. Ada yang tidak indah dipandang dan tidak memberi manfaat. Ada pula yang seperti bunga mawar, tampak indah tetapi memiliki duri yang dapat melukai. Begitu pula manusia. Ada yang hanya sibuk memperindah penampilan, tetapi tidak peduli apakah dirinya memberi manfaat bagi orang lain atau tidak,” jelasnya.

Melalui pengajian tersebut, jamaah diajak untuk terus memperbaiki kualitas hati agar kehidupan yang singkat ini dapat melahirkan amal saleh dan kebermanfaatan yang dirasakan oleh sesama.

“Yang perlu kita perhatikan bukan hanya bagaimana terlihat baik di hadapan manusia, tetapi bagaimana menjadi pribadi yang benar-benar bermanfaat. Sebab pada akhirnya, kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara sebelum kembali kepada Allah,” pungkasnya. (AR)

Editor: Abdul Rasyid

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan