Kolom

Tak Cukup Kaya untuk Sekadar Bertahan

Oleh: Abdul Rasyid, S.E.

Harga-harga naik, lapangan kerja makin sempit, dan pemerintah sibuk bicara angka-angka yang tidak kita rasakan. Kondisi geoekonomi dan geopolitik masih menunjukkan tensi yang cukup tinggi, dan negara yang amat kita cintai ini sudah jelas pasti akan terdampak. Tentu saja, sebagaimana yang kita ketahui bersama, Indonesia belum cukup kebal dengan hantaman kondisi ekonomi global.

Selat Hormuz yang terus bergejolak membuat cadangan BBM kita tidak aman. Jika konfliknya mereda lebih awal, atau paling tidak hanya beberapa bulan, mungkin akan baik-baik saja. Meskipun sudah pasti pemerintah akan merogoh kocek lebih dalam untuk menambal subsidi.

Meskipun katanya cadangan BBM kita aman sampai akhir tahun, rasa-rasanya itu hanya untuk meredam tangisan rakyat di bawah sana sementara waktu saja. Jelas, isu seperti ini jika dibiarkan larut bisa mengancam singgasana kekuasaan.

Tapi hari ini, di luar dugaan, tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba orang bangun pagi membaca berita kenaikan harga BBM yang cukup signifikan untuk kelas Pertamax. Pertalite masih dijaga kuat-kuat, belum kepikiran nekat untuk menaikkan. Tentu saja pemerintah sudah menghitung matang-matang soal ini.

Pertamax naik, yang menjerit sudah pasti orang dengan profil ekonomi menengah ke atas. Orang yang berpikirnya, “Ah, tidak apa-apa beli Pertamax 90, harganya 12 ribu lebih dikit, daripada antre Pertalite panjang dan mengular. Lagipula di eceran pinggiran jalan 12 ribu juga, ya mending beli Pertamax 90.” Itu cerita kemarin. Tapi hari ini, mereka bilang, “Ya Allah, kok naiknya nggak kira-kira, harus beli bensin yang mana lagi kalau begini.”

Kondisi seperti itu sudah pasti akan membuat antrean Pertalite di SPBU semakin panjang. Orang dengan profil ekonomi menengah akan menyesuaikan diri dengan beralih ke Pertalite. Terlalu jauh selisihnya, hitungannya sudah sulit untuk dicerna.

*

Urusan BBM belum selesai, eh lapangan kerja ikut bermasalah. Hari ini benar-benar semuanya bisa dibilang sulit. Ekonomi sulit berkembang. Lapangan pekerjaan yang dijanjikan tidak lekas diketahui keberadaannya. Mungkin karena judulnya hanya janji politik, jadi ya mungkin akan tetap menjadi janji saja.

Ketidakseimbangan ekonomi ini juga merembet ke pengurangan karyawan di banyak perusahaan dan bisnis skala kecil hingga menengah. Bisa menutup operasional saja sudah untung di tengah semua harga yang serba naik.

Idealnya memang lapangan pekerjaan diciptakan sebanyak mungkin, agar masyarakat kelas menengah tumbuh dan menjadi penggerak ekonomi. Tapi hari ini, mencari pekerjaan saja susah setengah mati. Lebih-lebih mencari pekerjaan dengan upah yang layak, itu sudah pasti jauh lebih susah.

Kondisi seperti itu pada akhirnya memunculkan fenomena baru. Daripada tidak bekerja, mending jualan. Akhirnya hari ini banyak sekali orang berjualan. Beberapa ada yang berhasil, tapi banyak di antaranya mengeluh karena sepi pembeli. Semua orang jualan, roda ekonomi tidak bisa berputar. Apabila kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, tentu saja tidak baik.

Bagi kita masyarakat ekonomi menengah ke bawah, kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian ini sangat merisaukan. Penghasilan segitu-gitu saja, tapi harga barang terus naik. Mau investasi? Lihat IHSG babak belur ya tidak bisa beli saham — uangnya tidak ada. Harga emas turun ya tidak bisa beli — uangnya juga tidak ada.

Jangankan investasi, untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah harus putar otak. Kita hanya bisa menikmati puing-puing ekonomi yang mencekik leher, sambil menonton orang-orang kaya atau pejabat menikmati kue ini.

Lho iya, bagaimana tidak — di tengah kondisi ekonomi yang begini, mereka bisa menjual dolarnya, bisa beli saham diskon besar, juga beli emas mumpung harganya sedang koreksi cukup tajam dalam tiga bulan terakhir.

Pada akhirnya, senjata terakhir yang kita punya hari ini adalah “hemat”. Kita perlu bijaksana mengatur semua pengeluaran. Tidak ada yang bisa kita harapkan kecuali diri kita sendiri. Pemerintah paling-paling akan mengimbau masyarakat untuk hemat belanja, tidak boros, dan lain sebagainya. Sudah pasti akan seperti itu.

Oh iya, kabar baiknya, kita ini negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah — tapi dari dulu ya kita gini-gini aja. Indonesia Emas 2045 katanya, semoga saja benar-benar terwujud. Minimal kita masih punya harapan. Semoga saja.

Abdul Rasyid, S.E.

Sekretaris PCM Banjarharjo | Personal Finance & Investment Strategist

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bagikan