Khutbah

Setelah 81 Tahun Merdeka, Sudahkah Indonesia Berdiri di Atas Kaki Sendiri?

Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَي ئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ

فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ

وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِ يْنِ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ , يَا أَيُّها الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ

وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

وَاِذْ تَاذََّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَََزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah

Tidak terasa, tahun ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaannya. Tepat pada tanggal 17 Agustus 2026, Indonesia genap berusia 81 tahun sebagai negara yang merdeka. Kemerdekaan yang diperoleh bukanlah hadiah dari bangsa lain, tetapi hasil perjuangan para pendahulu yang mengorbankan harta, pikiran, tenaga bahkan nyawanya untuk membebaskan bangsa ini dari penjajahan.

Oleh sebab itu, memperingati kemerdekaan tidak cukup hanya dengan memasang bendera, mengikuti upacara, mengadakan berbagai perlombaan dan kegiatan seremonial lainnya. Kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi. Setelah 81 tahun merdeka, sudah sejauh mana bangsa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri? Apakah sudah mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri? Apakah sudah mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi rakyatnya? Apakah sudah mampu menghasilkan manusia-manusia unggul yang dapat bersaing dengan bangsa lain?

Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah

Indonesia ini adalah negara yang sangat kaya. Tanahnya subur, lautnya luas, hasil buminya melimpah. Indonesia memiliki minyak, gas, batu bara, emas, nikel, bauksit, sawit dan berbagai kekayaan alam lainnya. Jumlah penduduknya juga sangat besar sehingga menjadi salah satu pasar ekonomi terbesar di dunia. Potensi ekonominya luar biasa.

Tetapi persoalannya bukan hanya apakah Indonesia kaya atau tidak. Persoalannya adalah apakah kekayaan tersebut mampu dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sebab negara yang kaya sumber daya alam belum tentu menjadi negara yang kuat. Negara yang memiliki kekayaan alam melimpah belum tentu menjadi negara yang mampu menentukan arah perekonomiannya sendiri.

Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia. Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan cadangan dan produksi nikel terbesar di dunia. Tetapi menjadi produsen terbesar belum otomatis berarti menjadi negara yang paling berkuasa dalam menentukan harga, teknologi dan produk akhirnya. Nilai tambah yang besar justru muncul ketika bahan mentah tersebut dapat diolah menjadi produk jadi atau setengah jadi dengan teknologi yang dikuasai sendiri.

Karena itulah kebijakan hilirisasi menjadi sangat penting. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi tempat mengambil bahan mentah, kemudian bahan tersebut dikirim ke negara lain untuk diolah menjadi barang bernilai tinggi, lalu produk jadinya kembali masuk ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih mahal. Kalau seperti itu, secara ekonomi Indonesia memang memiliki sumber daya, tetapi belum sepenuhnya memiliki kekuatan untuk menguasai nilai tambahnya.

Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah

Tantangan kemerdekaan pada zaman sekarang memang sudah berbeda dengan zaman penjajahan dahulu. Kalau dahulu penjajah datang membawa senjata dan menguasai wilayah, sekarang penguasaan dapat dilakukan melalui modal, teknologi, pasar dan kekuatan ekonomi. Karena itu, kemerdekaan pada masa sekarang tidak cukup hanya bebas dari penjajahan secara politik. Kemerdekaan juga harus diwujudkan dalam bentuk kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, pendidikan yang berkualitas dan kemampuan bersaing dengan negara lain.

Hari ini bahkan Indonesia harus menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Vietnam yang dahulu bukan negara dengan kekuatan ekonomi sebesar sekarang, dalam beberapa dekade terakhir mampu berkembang menjadi salah satu tujuan penting investasi dan industri di Asia Tenggara. Banyak perusahaan besar membangun pabrik di Vietnam, terutama di sektor manufaktur, elektronik dan industri berorientasi ekspor. Thailand juga telah lama menjadi basis industri otomotif, elektronik, pariwisata dan berbagai sektor lainnya.

Padahal Indonesia memiliki pasar yang jauh lebih besar, jumlah penduduk yang lebih banyak dan sumber daya alam yang sangat melimpah. Seharusnya potensi tersebut menjadi daya tarik yang luar biasa bagi investor. Tetapi pada saat yang sama harus diakui bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam menciptakan iklim usaha yang mudah, murah, cepat dan memberikan kepastian.

Sering terdengar keluhan dari dunia usaha mengenai rumitnya perizinan, panjangnya birokrasi dan berbagai pungutan yang muncul di lapangan. Bahkan dalam proses investasi yang baru sebatas negosiasi saja, terkadang sudah muncul berbagai macam permintaan. Ada uang keamanan, ada uang izin, ada uang ini, ada uang itu. Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, tentu investor akan berpikir ulang. Mereka akan membandingkan, apakah lebih mudah membangun pabrik di Indonesia atau di Vietnam, Thailand dan negara-negara lainnya.

Padahal ketika sebuah perusahaan besar memutuskan membangun pabrik di suatu negara, yang datang bukan hanya uang investasi. Ada lapangan pekerjaan, ada teknologi, ada transfer pengetahuan, ada pajak, ada usaha-usaha kecil yang ikut tumbuh menjadi pemasok, ada warung dan rumah makan yang ikut berkembang, serta ada ribuan keluarga yang mendapatkan penghasilan.

Karena itu, apabila Indonesia ingin menjadi negara maju, jangan sampai orang yang ingin membuka usaha secara legal justru dipersulit. Jangan sampai birokrasi menjadi beban bagi dunia usaha. Jangan sampai pungutan-pungutan yang tidak semestinya membuat investor lebih memilih negara lain.

Pemerintah memiliki pekerjaan besar untuk menciptakan kepastian hukum, memperbaiki pelayanan publik, memberantas korupsi, menyederhanakan perizinan dan memastikan bahwa setiap orang yang ingin bekerja dan berusaha secara halal mendapatkan kemudahan.

Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah

Penduduk Indonesia ini jumlahnya besar, seharusnya bukan hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi produsen. Jangan hanya menjadi pasar bagi barang-barang dari negara lain, tetapi harus mampu menghasilkan barang dan jasa yang dapat dijual ke seluruh dunia. Jangan hanya mengirim tenaga kerja, tetapi juga harus mampu menciptakan perusahaan-perusahaan besar yang membuka lapangan pekerjaan di dalam negeri.

China dapat menjadi pelajaran yang menarik. China merdeka pada tahun 1949, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. Tetapi hari ini China telah berubah menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan teknologi terbesar di dunia. Produk-produknya ada di berbagai negara. Industrinya berkembang sangat pesat. Teknologinya semakin maju. Bahkan dalam beberapa bidang, China mampu bersaing dengan negara-negara maju yang sudah lebih dahulu berkembang.

Kalau China bisa berubah sedemikian rupa, tentu Indonesia juga memiliki peluang untuk melakukan hal yang sama. Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, penduduk yang besar, pasar yang besar dan posisi geografis yang sangat strategis. Yang dibutuhkan adalah kesungguhan dalam membangun manusia.

Pemerintah harus memastikan pendidikan yang berkualitas. Dunia pendidikan harus menghasilkan manusia yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi memiliki kemampuan. Anak-anak muda harus dibekali ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan dan akhlak. Dunia usaha harus diberi ruang untuk berkembang. Dan masyarakat harus memiliki budaya kerja keras, disiplin dan kejujuran.

Jangan sampai kekayaan alam yang melimpah justru membuat bangsa ini terlena. Kekayaan alam hanyalah modal. Yang menentukan masa depan bangsa adalah kualitas manusia yang mengelolanya.

Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah

Wujud rasa syukur atas kemerdekaan bukan hanya dengan mengatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Wujud syukur adalah dengan bekerja keras agar bangsa ini benar-benar menjadi bangsa yang besar. Pemerintah bekerja dengan amanah, pengusaha bekerja dengan jujur, guru mendidik dengan sungguh-sungguh, orang tua mendidik anak-anaknya dengan baik dan generasi muda belajar dengan tekun.

Kemerdekaan Indonesia yang telah memasuki usia 81 tahun harus menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Dulu para pendahulu berjuang mengusir penjajah dengan senjata dan pengorbanan jiwa. Sekarang perjuangan dilakukan dengan ilmu, pendidikan, teknologi, ekonomi, integritas dan kerja keras.

Kalau dahulu musuhnya adalah penjajahan, sekarang tantangannya adalah kebodohan, kemiskinan, korupsi, ketergantungan teknologi, lemahnya daya saing dan perpecahan. Maka tugas generasi sekarang adalah melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang berbeda.

Semoga Indonesia tidak hanya menjadi negara yang besar jumlah penduduknya, tetapi juga besar kualitas manusianya. Tidak hanya kaya sumber daya alamnya, tetapi juga mampu mengolahnya sendiri. Tidak hanya menjadi pasar bagi negara lain, tetapi mampu menjadi produsen yang produknya digunakan oleh masyarakat dunia.

Semoga pada usia kemerdekaan yang ke-81 ini, Allah SWT memberikan kekuatan kepada bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju, mandiri, adil dan makmur, serta tetap menjadi bangsa yang beriman dan bertakwa kepada Allah serta Indonesia menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik (aman, subur, dan makmur) dan Allah mengampuni dosa-dosa penduduknya.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَ يِنَاتٍ لِيُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ

وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . يأيَُّهَا الذين آمنوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ؛

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِ ي،ِ يَا أَيُّها الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِ مُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا

صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأحَْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأمَْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الد عَوَاتِ

اللهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

اللهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُ ريَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الد نْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَالنارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَ بِ الْعَالَمِينَ

 

Abdul Rasyid, S.E.

Sekretaris PCM Banjarharjo | Pemred muhammadiyahbanjarharjo.com

Artikel Terkait

Bagikan