Khazanah

Kelahiran Nabi Muhammad: Cahaya, Nasab, dan Masa Kecil Rasulullah

Kapan Nabi Muhammad saw. lahir? Pertanyaan ini ternyata tidak sesederhana yang kita kira. Di tengah masyarakat, tanggal 12 Rabiulawal sudah sangat populer sebagai hari kelahiran Rasulullah saw. Namun, dalam kajian sirah, para ulama memiliki beberapa pendapat. Ada yang menyebut 12 Rabiulawal, 10 Rabiulawal, bahkan ada yang berpendapat 9 Rabiulawal.

Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah memilih pendapat bahwa Rasulullah SAW lahir pada hari Senin, 9 Rabiulawal, pada Tahun Gajah. Tahun tersebut diperkirakan bertepatan dengan 20 atau 22 April 571 Masehi berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh Muhammad Sulaiman al-Manshurfuri dan ahli falak Mahmud Basya.

Tahun Gajah sendiri merujuk pada peristiwa ketika pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah datang ke Mekah dengan tujuan menghancurkan Ka’bah. Namun, Allah menggagalkan rencana tersebut. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah kelahiran Nabi Muhammad saw.

Cahaya dari Rahim Aminah

Kelahiran Rasulullah saw. juga disebut-sebut disertai sejumlah tanda yang luar biasa. Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Aminah, ibunda Nabi, merasakan cahaya keluar dari dirinya ketika mengandung Rasulullah saw. Cahaya tersebut bahkan disebut menerangi hingga istana-istana di negeri Syam.

Dalam sejumlah riwayat juga disebutkan berbagai peristiwa yang dikenal dengan istilah irhāshāt, yaitu tanda-tanda luar biasa yang terjadi sebelum seseorang diangkat menjadi nabi. Di antaranya adalah runtuhnya beberapa beranda istana Persia, padamnya api yang selama bertahun-tahun disembah kaum Majusi, serta menyusutnya air Danau Sawah hingga menyebabkan gereja-gereja di sekitarnya roboh.

Terlepas dari perbedaan kekuatan riwayat mengenai tanda-tanda tersebut, kelahiran Nabi Muhammad saw. memang menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah manusia.

Setelah Rasulullah lahir, Aminah mengutus seseorang untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada Abdul Muthalib. Sang kakek pun datang dengan penuh sukacita. Ia membawa bayi Muhammad ke dalam Ka’bah, mendoakan dan bersyukur kepada Allah, kemudian memberi nama cucunya itu Muhammad.

Nama Muhammad pada saat itu bukanlah nama yang umum digunakan oleh bangsa Arab. Karena itu, orang-orang bertanya mengapa Abdul Muthalib memilih nama tersebut.

Abdul Muthalib menjawab bahwa ia berharap cucunya kelak menjadi orang yang banyak dipuji, baik di langit maupun di bumi.

Nama Muhammad sendiri berarti “yang banyak dipuji” atau “yang sangat terpuji”. Dan perjalanan hidup Rasulullah saw. seolah benar-benar menggambarkan makna tersebut.

Jauh sebelum menerima wahyu, Muhammad kecil sudah dikenal sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Ketika dewasa, masyarakat Quraisy bahkan memberinya gelar Al-Amin, orang yang terpercaya.

Nabi Muhammad dan Ibu Susuan

Pada masa itu, masyarakat Arab memiliki kebiasaan menyusukan bayi mereka kepada perempuan dari pedalaman. Bukan sekadar karena tradisi, tetapi juga agar anak tumbuh lebih sehat, kuat, serta terbiasa menggunakan bahasa Arab yang fasih.

Wanita pertama yang menyusui Rasulullah saw. setelah Aminah adalah Tsuwaibah, seorang budak milik Abu Lahab.

Setelah itu, Rasulullah saw. disusukan oleh Halimah As-Sa’diyah.

Kisah Halimah ini cukup menarik. Saat itu, para wanita dari Bani Sa’ad datang ke Mekah untuk mencari bayi yang bisa mereka susui. Namun, Muhammad kecil justru kurang diminati karena beliau sudah tidak memiliki ayah. Para wanita berharap mendapatkan bayi dari keluarga yang mampu memberikan imbalan lebih besar.

Halimah pun sempat tidak mendapatkan bayi. Karena tidak ingin pulang dengan tangan kosong, akhirnya ia memilih membawa Muhammad kecil.

Suaminya kemudian berkata, “Semoga Allah menjadikan kehadirannya sebagai keberkahan bagi kita.”

Dan benar saja, sejak Muhammad berada bersama mereka, berbagai keberkahan mulai dirasakan keluarga Halimah. Unta yang sebelumnya kurus dan hampir tidak menghasilkan susu menjadi penuh susu. Anak Halimah yang sebelumnya rewel juga menjadi lebih tenang.

Kisah ini kemudian menjadi salah satu bagian penting dari masa kecil Rasulullah saw.

Setelah sekitar dua tahun, Muhammad disapih. Beliau tumbuh dengan cepat dan terlihat lebih besar dibanding anak-anak seusianya. Setelah itu, beliau dikembalikan kepada ibundanya, Aminah, dan tinggal bersamanya hingga berusia enam tahun.

Kehilangan Sang Ibunda

Pada usia enam tahun, Muhammad kecil diajak Aminah pergi ke Yatsrib, yang kelak dikenal sebagai Madinah. Salah satu tujuannya adalah mengunjungi makam Abdullah, ayah Rasulullah saw, yang telah wafat sebelum beliau lahir.

Perjalanan itu ditempuh bersama Muhammad kecil, Ummu Aiman, dan Abdul Muthalib.

Setelah sekitar satu bulan di Yatsrib, mereka kemudian kembali menuju Mekah. Namun, perjalanan tersebut tidak sampai selesai. Di Al-Abwa’, sebuah tempat di antara Mekah dan Madinah, Aminah jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Bayangkan, di usia yang masih sangat kecil, Muhammad saw. harus kehilangan ibunya. Sebelumnya beliau sudah kehilangan ayah bahkan sebelum sempat melihat wajah sang ayah.

Setelah Aminah wafat, Muhammad kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.

Nasab Nabi Muhammad saw.

Rasulullah saw. berasal dari keluarga dan keturunan yang mulia. Nasab beliau adalah:

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Kinanah bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Para ulama dan ahli nasab membagi pembahasan mengenai nasab Rasulullah saw. menjadi tiga bagian.

Pertama, nasab dari Rasulullah saw. hingga Adnan. Bagian ini secara umum disepakati oleh para ahli sejarah dan nasab.

Kedua, nasab dari Adnan hingga Nabi Ibrahim a.s. Bagian ini masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Ketiga, nasab setelah Nabi Ibrahim a.s. hingga Nabi Adam a.s. Bagian ini lebih banyak diperselisihkan karena terdapat riwayat-riwayat yang tidak kuat.

Sedangkan dari jalur ibunya, Rasulullah saw. adalah Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab.

Aminah sendiri merupakan perempuan terpandang dari kalangan Quraisy. Ia berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan baik di tengah masyarakat Mekah.

Abdullah, Ayah Rasulullah saw.

Abdullah, ayah Rasulullah saw., merupakan putra Abdul Muthalib. Ia menikah dengan Aminah atas pilihan ayahnya.

Tentang wafatnya Abdullah terdapat beberapa riwayat. Ada yang menyebut ia meninggal ketika sedang berada di Madinah dalam perjalanan dagang. Ada pula riwayat yang menyebut ia meninggal ketika singgah di Madinah dalam keadaan sakit.

Yang jelas, Abdullah wafat ketika Rasulullah saw. belum lahir. Saat itu usia Abdullah masih sekitar 25 tahun.

Ada pula riwayat lain yang menyebut Abdullah meninggal beberapa waktu setelah kelahiran Nabi. Karena itu, persoalan waktu wafat Abdullah juga termasuk bagian yang memiliki perbedaan riwayat dalam literatur sirah.

Abdullah meninggalkan sejumlah harta yang tidak banyak, di antaranya lima ekor unta, beberapa ekor kambing, serta seorang budak perempuan dari Habasyah bernama Barakah.

Barakah inilah yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ummu Aiman.

Ia bukan sekadar menjadi bagian dari keluarga Rasulullah. Ummu Aiman juga menjadi salah satu orang yang merawat dan mendampingi Nabi sejak kecil. Bahkan, Rasulullah saw. sangat menghormatinya dan menyebutnya sebagai bagian dari keluarganya.

Kisah kelahiran dan masa kecil Nabi Muhammad saw. pada akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang anak yang lahir di Mekah. Di baliknya ada perjalanan panjang: kehilangan ayah sebelum lahir, kehilangan ibu di usia enam tahun, kemudian kehilangan kakek yang juga sangat menyayanginya.

Namun, dari perjalanan masa kecil itulah kita melihat bagaimana Allah mempersiapkan Muhammad saw. untuk menjalani tugas besar yang kelak diembannya.

Seorang anak yatim yang tumbuh dalam kesederhanaan kemudian menjadi manusia yang paling dipercaya oleh masyarakatnya. Dari Mekah, risalah Islam akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Itulah Muhammad bin Abdullah saw., manusia yang namanya terus disebut dan dipuji hingga hari ini.

Referensi: Ar-Rahiq Al-Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri

Redaksi

muhammadiyahbanjarharjo.com

Artikel Terkait

Bagikan