Muhammad Sang Pebisnis: Belajar Bisnis dan Kemandirian Ekonomi dari Rasulullah
Oleh: Abdul Rasyid, S.E.
Sayang sekali, pengetahuan kita tentang Nabi Muhammad saw. terkadang masih sangat terbatas. Bahkan ketika memperingati Maulid Nabi, umumnya kita hanya mengetahui bahwa Nabi Muhammad lahir pada Tahun Gajah. Ayahnya bernama Abdullah, ibunya Aminah. Muhammad kecil kemudian menjadi yatim dan setelah ibunya meninggal, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.
Padahal, banyak sekali kisah dari kehidupan Nabi Muhammad saw. yang bisa kita ambil pelajarannya. Jika kita membaca sejarah beliau sejak lahir hingga wafat, kita akan menemukan begitu banyak ujian dan perjuangan. Bahkan, tidak jarang kisah perjalanan hidup beliau membuat kita meneteskan air mata.
Selama ini kita lebih sering mengenal Muhammad saw. sebagai seorang nabi dan dai yang menyampaikan risalah Islam. Perjuangan dakwah beliau memang luar biasa. Dari dakwah secara sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan, menghadapi penolakan, tekanan, bahkan peperangan demi peperangan, hingga akhirnya Islam menyebar luas dan hari ini kita dapat menikmati Islam dengan begitu mudah.
Namun, ada satu sisi kehidupan Nabi Muhammad saw. yang terkadang kita lupakan. Muhammad adalah seorang pedagang, seorang pebisnis.
Nabi Muhammad dan Tradisi Dagang Quraisy
Muhammad saw. lahir dari Bani Quraisy. Masyarakat Makkah pada masa itu memang sangat akrab dengan perdagangan. Kondisi alam Makkah yang tandus, berbatu, dan kering membuat bertani bukan pekerjaan yang mudah. Karena itu, perdagangan menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat Makkah (Mansur, 2008).
Bani Quraisy juga memiliki kedudukan istimewa sebagai penjaga Ka’bah dan sumur Zamzam. Kedudukan tersebut membuat Makkah menjadi tempat yang ramai dikunjungi berbagai kabilah. Kondisi ini sekaligus memberikan keuntungan bagi Quraisy untuk melakukan perjalanan perdagangan ke berbagai wilayah.
Al-Qur’an menggambarkan perjalanan dagang Quraisy pada musim dingin dan musim panas dalam Surah Quraisy. Pada musim panas, mereka melakukan perjalanan ke wilayah utara, seperti Syam, sedangkan pada musim dingin mereka melakukan perjalanan ke wilayah selatan, seperti Yaman.
Jadi, perdagangan bukan sesuatu yang asing bagi Muhammad saw. Beliau tumbuh di tengah lingkungan masyarakat yang memang menjadikan perdagangan sebagai bagian penting dari kehidupan.
Namun, perjalanan Nabi Muhammad sang pebisnis tidak dimulai ketika beliau sudah dewasa. Kemandirian dan pengalaman bekerja justru telah tumbuh sejak usia dini.
Belajar Mandiri Sejak Kecil
Muhammad saw. menjadi yatim piatu pada usia enam tahun. Setelah ayah dan ibunya wafat, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Setelah sang kakek wafat, Muhammad kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.
Abu Thalib hidup sederhana. Kondisi tersebut membuat Muhammad kecil turut membantu perekonomian keluarga dengan melakukan berbagai pekerjaan untuk penduduk Makkah. Pengalaman ini menjadi bekal penting dalam membentuk kemandirian dan mentalnya sebelum terjun ke dunia perdagangan.
Salah satu pekerjaan yang dijalani Muhammad saw. adalah menggembala kambing. Pekerjaan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki banyak pelajaran. Menggembala melatih seseorang untuk mengatur, menjaga, dan bertanggung jawab terhadap apa yang diamanahkan kepadanya.
Dari menggembala, tumbuh sikap lembut, sabar, rendah hati, sekaligus kemampuan mengatur dan menata kehidupan (Richmoslem dan Masihum, 2012).
Yang menarik, Muhammad tidak merasa malu melakukan pekerjaan tersebut. Meskipun memiliki kakek yang terpandang di Makkah, beliau tetap bekerja. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa bekerja dan berusaha sejak kecil justru menjadi bagian dari proses pembentukan karakter Muhammad saw.
Usia 12 Tahun Mulai Berdagang
Ketika berusia sekitar 12 tahun, Muhammad saw. memperoleh pengalaman penting dengan mengikuti pamannya, Abu Thalib, berdagang ke Syam. Perjalanan tersebut menjadi semacam magang atau internship yang kelak berguna ketika beliau mengelola bisnis sendiri (Antonio, 2007).
Dari perjalanan tersebut Muhammad belajar mengenal perdagangan secara langsung. Beliau melihat bagaimana barang dibawa dari satu daerah ke daerah lain, bagaimana melakukan perjalanan, bertemu dengan banyak orang, dan menghadapi berbagai keadaan.
Pengalaman inilah yang kemudian membentuk Muhammad menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, pantang menyerah, dan mampu mengambil keputusan ketika menghadapi situasi sulit (Richmoslem dan Masihum, 2012).
Ketika usaha Abu Thalib mengalami kesulitan, Muhammad tidak lantas larut dalam kepedihan. Beliau segera mencari alternatif dengan melakukan perdagangan keliling. Berbekal pengalaman yang dimilikinya, Muhammad mulai menawarkan jasa kepada para saudagar kaya Makkah untuk menjualkan barang dagangan mereka.
Aktivitas berdagang sebenarnya sudah akrab dengan Muhammad sejak kecil. Beliau juga terbiasa membantu menjual barang dagangan di sekitar Ka’bah pada musim haji. Pengalaman-pengalaman inilah yang kemudian menjadi modal dasar bagi berkembangnya jiwa entrepreneurship Muhammad saw.
Dari Pedagang hingga Pengelola Modal
Memasuki usia 20-an, kemampuan berdagang Muhammad saw. semakin berkembang. Perdagangan beliau mulai menjangkau berbagai wilayah di luar Makkah.
Selain memiliki keterampilan berdagang, Muhammad juga memiliki kemampuan membangun hubungan dan jaringan. Beliau menjalin hubungan dengan kepala-kepala kabilah Arab yang merupakan jaringan keluarganya. Kemampuan membangun kepercayaan inilah yang kemudian menjadi salah satu modal penting dalam bisnisnya.
Muhammad mulai menawarkan kerja sama kepada para saudagar kaya Makkah melalui pola syirkah dan mudharabah. Dengan sistem tersebut, seseorang dapat menjalankan usaha menggunakan modal orang lain dengan memperoleh upah atau bagian dari keuntungan.
Salah satu pemilik modal yang kemudian bekerja sama dengan Muhammad adalah Khadijah, seorang janda kaya yang menawarkan kemitraan dengan sistem bagi hasil (profit sharing) (Richmoslem dan Masihum, 2012).
Dari sinilah kesempatan Muhammad semakin terbuka. Beliau tidak hanya berdagang menggunakan modal sendiri, tetapi juga dipercaya menjalankan modal orang lain, baik dengan sistem upah (fee based) maupun bagi hasil (profit sharing) (Antonio, 2007).
Kepercayaan tersebut tentu tidak datang begitu saja. Muhammad mampu menjaga amanah dan mengelola perdagangan dengan baik sehingga menghasilkan keuntungan. Kemampuan inilah yang kemudian membuat Khadijah semakin percaya kepadanya.
Muhammad dipercaya memimpin beberapa ekspedisi perdagangan ke Syam, Yordania, Yaman, dan Bahrain. Dengan pengalaman tersebut, pada usia muda Muhammad saw. telah berkembang menjadi pedagang dengan jaringan perdagangan yang luas di Jazirah Arab (Afzalurrahman, 2000; Antonio, 2007).
Perjalanan karier Muhammad di bidang perdagangan dapat dirumuskan secara sederhana. Pada usia sekitar 12 tahun, beliau mulai mengenal perdagangan melalui perjalanan bersama pamannya atau semacam internship. Ketika semakin dewasa, beliau mulai menjalankan perdagangan sendiri. Saat para saudagar mempercayakan pengelolaan perdagangan kepada Muhammad, beliau menjadi semacam investment manager. Setelah menikah dengan Khadijah, beliau berkembang menjadi business owner. Memasuki usia 30-an, Muhammad bahkan telah menjadi investor dan memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan kondisi masyarakat. Dalam istilah Antonio, beliau telah mencapai kebebasan finansial dan waktu (financial freedom) (Antonio, 2007).
Nabi Muhammad Berdagang Selama Puluhan Tahun
Dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad saw. sepanjang hidupnya telah berdagang atau berbisnis selama kurang lebih 28–29 tahun lamanya. Kalau kita bandingkan dengan masa dakwah Nabi Muhammad saw., beliau menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun, sedangkan wafat sekitar usia 63 tahun. Artinya, sepanjang hidupnya Nabi Muhammad saw. berdakwah menyampaikan risalah Islam selama kurang lebih 23 tahun.
Tetapi umat Islam hari ini lebih mengenal Muhammad sebagai seorang nabi, seorang dai, dan pendakwah yang menyampaikan risalah Islam. Padahal, sebelum menjadi rasul, beliau telah memiliki perjalanan panjang sebagai pedagang dan pebisnis.
Sebuah ironi jika hari ini kita menyaksikan bahwa menjadi dai atau penceramah justru dijadikan sebagai profesi utama. Tidak sedikit muncul ustaz atau gus dengan tarif yang sangat mahal dan kehidupan yang mewah. Mobil mewah, jam mahal, tas, dan pakaian bermerek (branded).
Mungkin tidak menjadi masalah jika semua itu memang dihasilkan dari bisnisnya. Namun, jika semua kemewahan tersebut dibeli dari tarif ceramah yang mahal, tentu perlu menjadi bahan renungan. Sebab, jika dakwah hanya dijadikan sumber penghasilan untuk mengejar kemewahan, hal tersebut tentu dapat merusak citra Islam itu sendiri.
Mengapa Nabi Muhammad Berdagang?
Kenapa Nabi Muhammad berdagang atau berbisnis?
Menurut Prof. Syafii Antonio, syarat untuk berbicara secara bebas adalah kemandirian ekonomi. Oleh karena itu, Nabi Muhammad berdagang, Nabi saw. berbisnis, dan beliau membangun kemandirian ekonomi hingga mencapai financial freedom atau merdeka secara finansial. Dengan demikian, Nabi lebih leluasa menyampaikan risalah Islam.
Konteks hari ini bagaimana?
Kita tidak bisa menasihati atau memberikan kritik kepada bupati, wali kota, gubernur, atau bahkan presiden jika pada saat yang sama kita mendapatkan proyek dari mereka. Jika kita mendapatkan uang dari orang tersebut, walaupun mereka salah, kita menjadi terkunci atau tidak bebas.
Kita sering menyaksikan banyak aktivis yang tadinya begitu vokal dan kritis, tiba-tiba mendadak diam ketika sudah mendapatkan posisi tertentu.
Ya, memang seperti itu.
Ketika kepentingan ekonomi sudah masuk, kebebasan bisa ikut hilang. Ketika kehidupan kita bergantung kepada seseorang, akan semakin sulit bagi kita untuk bersikap bebas terhadap orang tersebut.
Di sinilah salah satu pelajaran penting dari Nabi Muhammad sang pebisnis. Kemandirian ekonomi bukan hanya tentang menjadi kaya, tetapi juga tentang memiliki kebebasan untuk tetap menyampaikan kebenaran.
Semoga kita bisa meneladani Rasulullah saw. sebagai sang pebisnis, bukan hanya melihatnya sebagai dai, penceramah yang menyampaikan risalah Islam saja.
Sebab, dari perjalanan Nabi Muhammad sebagai pedagang dan pebisnis, kita belajar bahwa kerja keras, kemandirian, amanah, kemampuan membangun jaringan, dan kebebasan ekonomi juga merupakan bagian penting dari keteladanan Rasulullah saw.
Nabi Muhammad sang pebisnis mengajarkan kepada kita bahwa kemandirian ekonomi bukan sekadar tentang menjadi kaya, tetapi juga tentang memiliki kebebasan untuk tetap berada di jalan yang benar.
